Minggu, 02 Oktober 2011

Murid Spesial nan Cantik

Magang hari ketiga

Jumat 5 Agustus 2011

***

Setiap hari Rabu dan Jumat adalah jawal terapi individual Tasya. Tasya adalah siswi Mandiga yang usianya kurang lebih 9 tahun. Sejak hari kedua magang dan bertemu Tasya, saya langsung senang melihat Tasya. Dengan jilbabnya yang sering terlihat rambut poninya itu Tasya terlihat cantik dan menggemaskan. Tampak sekilas, orang pada umumnya mungkin tidak akan menyangka bila Tasya adalah anak autis. Tasya adalah murid yang ramah. Ia senang menyapa dan mengajak ‘ngobrol’ orang yang ia temui. Pertama kali bertemu, Tasya langsung menghampiri kami untuk bersalaman dan berkenalan. Namun, bila diperhatikan lebih dalam, tingkah laku murid cantik yang satu ini, memang berbeda dari anak-anak umumnya. Ia terlihat kurang bisa menerapkan gaya komunikasi dan sosialisasi sesuai dengan norma di lingkungan. Seperti misalnya, jika melakukan percakapan dengan orang lain, Tasya terlihat sebagai orang yang banyak memberikan pertanyaan. Nada dan gaya bicaranya ketika bertanya kepada orang lain seperti polisi yang sedang menyelidiki kebenaran dari para tersangka. Ia juga suka bertanya dengan rentetan pertanyaan tanpa menunggu jawaban dari orang yang diberikan pertanyaan tersebut.

Suatu hari, ketika kami sedang ngobrol dengan Tasya di ruang tengah, Tasya bertanya “Ka Farah, kenapa make baju warna pink?”. Sebelum saya sempat menjawab pertanyaannya, ia melengos pergi meninggalkan kami menuju kantor seakan tidak peduli dengan jawaban yang akan saya berikan. Kontan saja, kami semua yang ada disana tertawa sambil geleng-geleng melihat tingkah pola Tasya hari itu. Tasya.. Tasya..

Selidik-punya selidik, mendengarkan cerita dari salah seorang guru yang pernah mengajar Tasya sejak usia 4 tahun, katanya Tasya cilik suka berontak. Ia suka marah-marah tidak mau belajar. Jika sudah marah, (lucunya) ia sering membuka pakaian yang ia kenakan. Hihihihi untung kamu masih kecil, Tasya :p. Tasya sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik, lincah, dan pintar. Alhamdulillah yaa, perkembangan Tasya dari tahun ke tahun mengalami kemajuan yang cukup baik. Sekarang Tasya sekolah di SD Pantara, salah satu sekolah inklusi di daerah Jakarta. Meskipun sudah bersekolah di sekolah inklusi, ia masih tetap rajin ke Mandiga untuk terapi individual.

Suatu hari nanti, bisa saya pastikan, saya akan kangen dengan murid spesial nan cantik ini, Tasya :*

My First Day of Internship

Magang hari pertama

Selasa, 2 Agustus 2011

***

Di hari pertama magang. Perasaan canggung, tidak nyaman, tidak bersemangat, bingung, malas adalah perasaan yang (mungkin) wajar dialami di hari pertama permagangan. Semua itu termasuk proses adaptasi yang harus dilewati di tempat yang baru. Sebelum memulai permagangan, saya dan teman-teman bertemu dengan Mba Yuli. Entah jabatan apa yang ia pegang, yang jelas ia cukup penting di Mandiga. Mba Yuli memberikan arahan kepada kami tentang tugas-tugas yang akan kami kerjakan selama magang di Mandiga. Awalnya, saya masih tidak paham dengan tugas-tugas magang, sebelum akhirnya Mba Siti selaku admin disana memberikan arahan yang lebih jelas, dengan langsung memberikan tugas-tugas kepada kami.

Tugas di hari pertama untuk anak magang adalah membuat alat bantu belajar. Kata mba Siti, yang kami buat adalah kartu komunikasi. Kartu komunikasi itu berisi berbagai macam gambar dan kata. Ada gambar alat tulis, alat makan, kata kerja, dsb. Untuk mebuat kartu tersebut, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari gambar dan kata yang diperlukan di dalam komputer, kemudian print gambar tersebut, lalu gunting sesuai dengan bentuknya, tempel gambar tersebut ke karton yang sesuai dengan ukurannya (5x5/7x7/9x9 cm dsb), lalu proses laminating. Jika kartu tersebut digunakan untuk papan komunikasi, maka kartu yang sudah dilaminating, kemudian harus di tempel 'felkro' dengan menggunakan lem aibon. Jadilah kartu komunikasi yang siap digunakan untuk belajar siswa-siswi Mandiga.

Kamis, 28 Juli 2011

belajar yang menyenangkan :)

Setiap anak pada dasarnya cerdas. Kecerdasan setiap anak tidak bisa disamakan. Menurut Howard Garner “Multiple Intelligences”, kecerdasan seseorang meliputi: kecerdasan matematika-logika, bahasa, musikal, visual-spasial, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Jika setiap anak adalah anak yang cerdas, lalu mengapa kita menemukan banyak sekali kasus anak yang tidak mau belajar, anak underachiever, anak yang tidak naik kelas, atau bahkan dikeluarkan dari sekolah?

Mungkin, pertanyaan diatas dapat dijawab melalui teori stimulus-respon. Anak akan berespon sesuai dengan stimulus yang diberikan orang dewasa, terutama orangtua dan guru. Pada masa kanak-kanak lingkungan memiliki peran yang sangat besar sehingga dapat mempengaruhi tingkah laku anak, dalam hal ini tingkah laku belajarnya. Jika kita perhatikan, dewasa ini banyak sekali anak yang dipaksa oleh orangtua untuk belajar sejak kecil. Sejak anak masuk TK, yang notabene-nya adalah taman kanak-kanak, mereka “dipaksa” untuk belajar membaca dan menghitung. Berapa banyak guru di sekolah yang masih menghukum anak didiknya ketika mereka tidak mengerjakan tugas.

Banyak juga kasus orangtua yang memberikan hukuman, baik fisik maupun perkataan, ketika mengetahui anaknya mendapat nilai buruk. Lihat juga berapa banyak orangtua dan guru yang masih menganggap kalau pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam adalah pelajaran yang lebih penting dibandingkan pelajaran yang lain, sehingga anak akan dianggap bodoh apabila mendapat nilai jelek di kedua mata pelajaran tersebut. Ditambah lagi, sistem pendidikan di Indonesia yang masih menggunakan sistem rangking di sekolah.

Beberapa kasus diatas tentunya bisa menimbulkan ketidaknyamanan belajar pada anak. Apa yang akan terjadi jika anak merasa tidak nyaman dalam belajar? Dampaknya, banyak! Anak menjadi malas belajar, motivasi turun, tidak percaya diri, underachiever, suka mencontek, sering bolos dari sekolah, melakukan tindakan kekerasan seperti bullying dan tawuran, tidak naik kelas, bahkan dikeluarkan dari sekolah.

Lalu, apa yang bisa dilakukan agar anak bisa nyaman ketika belajar? Kuncinya adalah menjadikan kegiatan belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan. Disini, peran pendidik, baik orangtua maupun guru sanga besar karena harus dapat menggunakan strategi se-kreatif mungkin agar suasana belajar menjadi lebih menyenangkan.

Rabu, 27 Juli 2011

uang seribu, saya, dan bapak tua


Hari itu, saya memilih menggunakan kereta untuk berangkat ke UI karena memperkirakan waktu yang lebih cepat sampai di tujuan. Di tulisan saya sebelumnya, saya sempat megatakan bahwa saya senang menggunakan kereta. Bukan hanya karena lebih cepat dan terkadang lebih murah, melainkan karena banyak pengalaman yang saya dapat disana. Begitu pula di hari itu. Seperti biasa, saya harus menaiki angkot berwarna merah yang melewati stasiun pasar minggu baru. Di angkot berwarna merah, yang hampir sepi dari penumpang, hanya ada saya, satu orang penumpang, bapak tua, dan tentu saja supir. Kebetulan, bapak tua itu duduk persis di samping sebelah kanan saya.

Tidak lama setelah ia duduk, ia terus menurus menunduk. Bapak tua itu sibuk melihat bagian bawah bangku seakan mencari-cari sesuatu. Bahkan ia berkali-kali mengangkat ban mobil yang ada di bagian bawah bangku. Melihat tingkah bapak tua itu, saya secara spontan bertanya.

“kenapa pak?”

“Saya lagi nyari uang saya” balas bapak tua.

Sebelum saya bertanya kepadanya, saya juga sudah mengira kalau bapak tua itu sedang mencari uang-nya yang jatoh. Saya memberanikan diri untuk bertanya karena saat saya memperhatikannya saya meilhat ada uang logam 1000 di dekat ban mobil bagian bawah bangku. Meskipun saya melihat uang tersebut, saya agak ragu bapak tua sedang mencari uang sebesar 1000 rupiah.

Lantas saya tanyakan kembali “Uangnya berapa pak?”.

“Seribu..” jawab si bapak tua.

Ya Tuhan teryata benar, uang yang sedari tadi saya lihat itu lah yang ia cari. Bahkan saya sempat ragu kalau bapak tua itu berusaha dengan keras hanya untuk mencari uang dengan nominal 1000 rupiah.

Buru-buru saya jawab “ini bukan pak!” sambil menunjuk ke uang tersebut.

“Oh iya, terimakasih ya” kata bapak tua sambil tersenyum dengan wajah bersinar.

Saya tersentil dengan kejadian ini. Selama ini, mungkin saya termasuk orang yang sering meremehkan uang seribu rupiah. Bagi saya uang seribu rupiah tidak ada arti apa-apa karena tidak banyak yang bisa dilakukan dengan uang tersebut. Saya akan mengabaikan jika saya kehilangan uang seribu rupiah. Bahkan saking tidak peduli, saya mungkin tidak akan tahu jika uang seribu yang saya miliki hilang.

Sejak saat itu, melalui uang logam seribu rupiah dan bapak tua, saya jadi belajar bahwa ada banyak orang di luar sana yang sangat amat menghargai besaran uang seribu rupiah. Uang seribu rupiah ah hidup mereka digantungkan. Dengan uang seribu rupiah, mereka bisa membayar banyak hal. Mereka bisa mengumpulkan uang seribu rupiah untuk membeli makan keluarga. Dengan uang seribu rupiah yang mereka tabung hari demi hari, mungkin lama-lama akan terkumpul sehingga bisa membiayai pendidikan mereka atau pendidikan anak-anak mereka. Uang seribu rupiah sangat berarti demi kelangsungan hidup sebagian orang.

Terimakasih bapak tua. Semoga engkau selalu diberikan kesehatan dan rejeki yang halal untuk membesarkan anak-anak mu yang kelak akan mengharumkan derajat keluargamu.

Minggu, 10 Juli 2011

13 indikator keberhasilan dalam dunia kerja

Prof. George Boggs meneliti tentang adanya 13 indikator keberhasilan seseorang dalam dunia kerja, diantaranya adalah:

  1. Jujur
  2. Tepat waktu
  3. Bisa menyesuaikan diri dengan orang lain
  4. Bisa bekerjasama dengan atasan
  5. Menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik
  6. Motivasi tinggi untuk memperbaiki diri
  7. Percaya diri
  8. Mampu berkomunikasi dan menjadi pendengar yang baik
  9. Mampu bekerja mandiri dengan supervisi minimum
  10. Tahan terhadap stres
  11. Mempunyai kecerdasan sesuai kebutuhan
  12. Bisa membaca dengan pemahaman yang memadai
  13. Mengerti dasar-dasar menghitung

Ternyata 10 dari 13 indikator (77%) merupakan dominan otak kanan, sedangkan sisanya (22%) menyangkut otak kiri (Megawangi, 2007). Aktivitas otak kanan seperti misalnya seni, keterampilan, kreativitas, dan juga kualitas hubungan dengan diri sendiri serta orang lain merupakan indikator terbanyak yang dapat menentukan keberhasilan seseorang di dalam dunia kerja (seperti pada data diatas).

Hmm.. saya jadi berpikir ulang, berapa lama waktu yang dihabiskan sekolah-sekolah (dalam hal ini pendidik) di Indonesia untuk mengajarkan siswanya dalam mengembangkan otak kanan? Tentu jumlahnya lebih sedikit (bahkan jauh lebih sedikit) jika dibandingkan dengan pengajaran dengan hanya menggunakan kemampuan dan pengembangan otak kiri. Sistem pengajaran di Indonesia saat ini masih menekankan pada otak kiri (seperti misalnya menghafal dan menghitung).

Jika selama di sekolah, pengajaran lebih menekankan pada aktivitas otak kiri sedangkan keberhasilan dunia kerja sangat ditentukan oleh aktivitas otak kanan, maka sangat tidak heran jika kualitas SDM di Indonesia berada di bawah Vietnam, atau nomor 4 terbawah (nomor 102 dari 106 negara). Survei PERC di 12 negara dalam (Megawangi, 2007), menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan terbawah.

Lalu tunggu apalagi? Mari perbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Rubah sistem pengajaran yang lebih menekankan pada aktivitas otak kiri ke aktivitas otak kanan. Imbangi pengajaran meliputi hardskill (keterampilan memasak, montir, menggunakan komputer, menjahit, keahliaan khusus, dsb) dan softskill(kepemimpinan, keterampilan komunikasi, pendengar yang baik, mengelola stres dan waktu, bekerjasama dengan tim, dsb).

Jumat, 03 Juni 2011

emotional empathy pada mahasiswa Psikologi dan Teknik UI

Di sebuah kelas mata kuliah wajib peminatan klinis, ada salah seorang mahasiswa yang bertindak 'kurang sopan'. Dosen kemudian memanggil mahasiswa tersebut ke depan kelas, dan beginilah percakapan diantara mereka.

Dosen: "Tadi kamu mau ngapain ngintip-ngintip di depan pintu?"
Mahasiswa: "Saya mau ngasih ini ke teman saya, mbak."
Dosen: "Kamu bisa loh ketok pintu dulu, minta izin sama saya, mbak saya mau ketemu sama teman saya, begitu!"
Mahasiswa: "Maaf mbak."
Dosen: "Kamu kan mahasiswa Psikologi, bukan mahasiswa Teknik. Jadi harusnya punya empati yang baik. Saya kan lagi mengajar di depan kelas. Lain kali jangan diulangi lagi ya."

Dari percakapan antara dosen dan mahasiswa diatas, ditambah dengan pengalaman berbicara dengan mahasiswa dari berbagai rumpun studi, saya mendapat kesimpulan bahwa mahasiswa yang belajar di Psikologi seharusnya (bisa dibilang dituntut) untuk memiliki empati yang lebih dibandingkan dengan mahasiswa Teknik.

Dari fenomena diatas, saya dan beberapa teman di Psikologi tertarik untuk membuat penelitian tentang emotional empathy pada mahasiswa Psikologi dan Teknik di Universitas Indonesia.

Sebelum melangkah pada penelitian yang kami lakukan, akan diuraikan pengertian dari emotional empathy. Menurut Stotland; Mehrabian & Epstein; Hoffman; dalam Myyry dan Helkama (2001), emotional empathy lebih menekankan pada aspek emosi. Mereka mendefinisikan empati sebagai respon emosi terhadap pengalaman emosi yang dialami orang lain. Menurut Bayer (2004), empati lebih dari sekedar kesadaran terhadap emosi orang lain, melainkan merasakan emosi-emosi yang terdapat di dalamnya, serta mengekspresikan perasaan dengan cara yang berperasaan.

Penelitian ini dilakukan kepada mahasiswa fakultas Psikologi dan Teknik Universitas Indonesia. Kami memberikan kuesioner tentang emotional empathy yang merupakan adaptasi dari Mehrabian & Epstein’s Questionnaire Measure of Emotional Empathy, kepada 19 mahasiswa Psikologi dan 19 mahasiswa Teknik.

Dari penelitian yang kami lakukan, didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan nilai rata-rata skor emotional empathy antara mahasiswa Psikologi dan Teknik. Rata-rata skor emotional empathy mahasiswa Psikologi adalah 86,79, sedangkan mahasiswa Teknik sebesar 84,42. Berdasarkan nilai rata-rata skor, emotional empathy mahasiswa Psikologi lebih tinggi dibandingkan mahasiswa Teknik.

Untuk meilihat signifikansinya, maka dilakukan pengujian nila t-test. Berdasarkan nilai t, yakni 0,210, didapatkan bahwa hasilnya tidak signifikan karena (p=0.210>0.05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan rata-rata skor antara mahasiswa Psikologi dan mahasiswa Teknik tidak berbeda secara signifikan.

Berdasarkan hasil penelitian yang kami lakukan, dengan menggunakan subjek sebanyak 38 mahasiswa Psikologi dan Teknik, tidak terdapat perbedaan yang signifikan emotional empathy antara mahasiswa Psikologi dengan mahasiswa Teknik Universitas Indonesia.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih representitaf terhadap populasi (mahasiswa Psikologi dan Teknik), sebaiknya penelitian kedepannya menggunakan lebih banyak sampel.

Kamis, 02 Juni 2011

KESMA PROXY

kami para pejuang!
kami lah..

KESMA PROXY
"terdepan dalam melayani"

cheli, wahe, ichwan, risya, dika, dan uci

SALAM PERJUANGAN!

 

Blog Template by YummyLolly.com