Rabu, 27 Juli 2011

uang seribu, saya, dan bapak tua


Hari itu, saya memilih menggunakan kereta untuk berangkat ke UI karena memperkirakan waktu yang lebih cepat sampai di tujuan. Di tulisan saya sebelumnya, saya sempat megatakan bahwa saya senang menggunakan kereta. Bukan hanya karena lebih cepat dan terkadang lebih murah, melainkan karena banyak pengalaman yang saya dapat disana. Begitu pula di hari itu. Seperti biasa, saya harus menaiki angkot berwarna merah yang melewati stasiun pasar minggu baru. Di angkot berwarna merah, yang hampir sepi dari penumpang, hanya ada saya, satu orang penumpang, bapak tua, dan tentu saja supir. Kebetulan, bapak tua itu duduk persis di samping sebelah kanan saya.

Tidak lama setelah ia duduk, ia terus menurus menunduk. Bapak tua itu sibuk melihat bagian bawah bangku seakan mencari-cari sesuatu. Bahkan ia berkali-kali mengangkat ban mobil yang ada di bagian bawah bangku. Melihat tingkah bapak tua itu, saya secara spontan bertanya.

“kenapa pak?”

“Saya lagi nyari uang saya” balas bapak tua.

Sebelum saya bertanya kepadanya, saya juga sudah mengira kalau bapak tua itu sedang mencari uang-nya yang jatoh. Saya memberanikan diri untuk bertanya karena saat saya memperhatikannya saya meilhat ada uang logam 1000 di dekat ban mobil bagian bawah bangku. Meskipun saya melihat uang tersebut, saya agak ragu bapak tua sedang mencari uang sebesar 1000 rupiah.

Lantas saya tanyakan kembali “Uangnya berapa pak?”.

“Seribu..” jawab si bapak tua.

Ya Tuhan teryata benar, uang yang sedari tadi saya lihat itu lah yang ia cari. Bahkan saya sempat ragu kalau bapak tua itu berusaha dengan keras hanya untuk mencari uang dengan nominal 1000 rupiah.

Buru-buru saya jawab “ini bukan pak!” sambil menunjuk ke uang tersebut.

“Oh iya, terimakasih ya” kata bapak tua sambil tersenyum dengan wajah bersinar.

Saya tersentil dengan kejadian ini. Selama ini, mungkin saya termasuk orang yang sering meremehkan uang seribu rupiah. Bagi saya uang seribu rupiah tidak ada arti apa-apa karena tidak banyak yang bisa dilakukan dengan uang tersebut. Saya akan mengabaikan jika saya kehilangan uang seribu rupiah. Bahkan saking tidak peduli, saya mungkin tidak akan tahu jika uang seribu yang saya miliki hilang.

Sejak saat itu, melalui uang logam seribu rupiah dan bapak tua, saya jadi belajar bahwa ada banyak orang di luar sana yang sangat amat menghargai besaran uang seribu rupiah. Uang seribu rupiah ah hidup mereka digantungkan. Dengan uang seribu rupiah, mereka bisa membayar banyak hal. Mereka bisa mengumpulkan uang seribu rupiah untuk membeli makan keluarga. Dengan uang seribu rupiah yang mereka tabung hari demi hari, mungkin lama-lama akan terkumpul sehingga bisa membiayai pendidikan mereka atau pendidikan anak-anak mereka. Uang seribu rupiah sangat berarti demi kelangsungan hidup sebagian orang.

Terimakasih bapak tua. Semoga engkau selalu diberikan kesehatan dan rejeki yang halal untuk membesarkan anak-anak mu yang kelak akan mengharumkan derajat keluargamu.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by YummyLolly.com