Magang hari ketiga
Jumat 5 Agustus 2011
***
Setiap hari Rabu dan Jumat adalah jawal terapi individual Tasya. Tasya adalah siswi Mandiga yang usianya kurang lebih 9 tahun. Sejak hari kedua magang dan bertemu Tasya, saya langsung senang melihat Tasya. Dengan jilbabnya yang sering terlihat rambut poninya itu Tasya terlihat cantik dan menggemaskan. Tampak sekilas, orang pada umumnya mungkin tidak akan menyangka bila Tasya adalah anak autis. Tasya adalah murid yang ramah. Ia senang menyapa dan mengajak ‘ngobrol’ orang yang ia temui. Pertama kali bertemu, Tasya langsung menghampiri kami untuk bersalaman dan berkenalan. Namun, bila diperhatikan lebih dalam, tingkah laku murid cantik yang satu ini, memang berbeda dari anak-anak umumnya. Ia terlihat kurang bisa menerapkan gaya komunikasi dan sosialisasi sesuai dengan norma di lingkungan. Seperti misalnya, jika melakukan percakapan dengan orang lain, Tasya terlihat sebagai orang yang banyak memberikan pertanyaan. Nada dan gaya bicaranya ketika bertanya kepada orang lain seperti polisi yang sedang menyelidiki kebenaran dari para tersangka. Ia juga suka bertanya dengan rentetan pertanyaan tanpa menunggu jawaban dari orang yang diberikan pertanyaan tersebut.
Suatu hari, ketika kami sedang ngobrol dengan Tasya di ruang tengah, Tasya bertanya “Ka Farah, kenapa make baju warna pink?”. Sebelum saya sempat menjawab pertanyaannya, ia melengos pergi meninggalkan kami menuju kantor seakan tidak peduli dengan jawaban yang akan saya berikan. Kontan saja, kami semua yang ada disana tertawa sambil geleng-geleng melihat tingkah pola Tasya hari itu. Tasya.. Tasya..
Selidik-punya selidik, mendengarkan cerita dari salah seorang guru yang pernah mengajar Tasya sejak usia 4 tahun, katanya Tasya cilik suka berontak. Ia suka marah-marah tidak mau belajar. Jika sudah marah, (lucunya) ia sering membuka pakaian yang ia kenakan. Hihihihi untung kamu masih kecil, Tasya :p. Tasya sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik, lincah, dan pintar. Alhamdulillah yaa, perkembangan Tasya dari tahun ke tahun mengalami kemajuan yang cukup baik. Sekarang Tasya sekolah di SD Pantara, salah satu sekolah inklusi di daerah Jakarta. Meskipun sudah bersekolah di sekolah inklusi, ia masih tetap rajin ke Mandiga untuk terapi individual.
Suatu hari nanti, bisa saya pastikan, saya akan kangen dengan murid spesial nan cantik ini, Tasya :*

0 komentar:
Posting Komentar