Hari apa sih ini?? Hari Kamis! Ya, hari Kamis, saya kembali magang setelah liburan hampir sebulan meninggalkan Mandiga. Kalau dihitung-hitung, magang sudah 13 hari. Itu artinya masih ada 3 hari sisa magang yang harus segera dilunaskan. ASAP!!
Ini magang bukan magang biasa. Azeeeekk~ Lebih ‘wwaaaaaww’ dari hari-hari magang sebelumnya. Magang hari ini saya harus magang sendirian :’( *lap air mata*.. Mengawali hari, semua berjalan tidak cukup biasa. Bertubi-tubi kerjaan datang dari para guru. Tidak lain dan tidak bukan disuruh membuat worksheetsiswa-siswi Mandiga. Dari mulai membuat soal penjumlahan, pengurangan, soal membaca, sampai menggunting, ngelem, laminating dll. Pekerjaan ini biasa sih sebenernya. Tapi yang membuat tidak biasa adalah saya harus mengerjakan sendiri (tanpa dua orang teman magang saya). Hikshiks. Untungnya ada Bu Siti, administrator di Mandiga yang dengan sangat baik hati membantu pekerjaan saya hari ini. Maaci eyaa Ibu Citiiiii… *sok imut mode on* :D
Detik demi detik dan menit ke menit berlalu.. Tiba-tiba dari ruang tengah muncul kehebohan. Pasalnya, bu Imah memasukkan Akram ke ruang tenang. Dan ternyata ruang tenang tidak bisa dibuka!! Nangis Akram semakin kencang. Para guru berusaha untuk membuka pintu sekaligus menenangkan Akram. Dari kelas D keluarlah bu Aida bersama Raksan. Niat awal bu Aida ingin memasukkan Raksan yang terus menerus menangis ke dalam ruang tenang. Namun, melihat ruang tenang masih ada Akram, bu Aida membawa Raksan ke taman. Saya diminta bu Aida untuk mengawasi Raksan. Menit pertama dan seterusnya, Raksan masih dapat saya awasi dengan baik. Tapi tiba-tiba, bu Aida ke taman dan berteriak, “Raksaaaaaaaaaaaann!! STOOPP!!”.
Ampuuuunn. Ada apa lagi ini?? Karena saya kurang mengawasi Raksan dengan baik, saya terlalu fokus pada kerjaan di komputer, jadilah Raksan main air di taman.
Belum selesai dengan kehebohan dari Raksan, bu Julita keluar dari kelas membawa Ming-ming yang sakit perut. Ia muntah-muntah. Saking sering dan tidak keburunya Ming-ming ke kamar mandi, membuat muntahannya itu berceceran di bangku dan lantai. Badannya terlihat lemas, matanya pun telihat layu. Ohh kasian Ming-ming ku..
Bu Julita memasak air panas untuk Ming-ming. Karena bu Julita juga harus mengajar di kelasnya, saya diminta untuk menemani Ming-ming sambil menunggu kalau-kalau air sudah mendidih. Ketika sedang menunggu air hingga mendidih, belum sampai mendidih saya sudah diminta oleh bu Siti untuk memanggil salah satu siswa Mandiga untuk menata meja. Setengah enggan, karena khawatir air sudah mendidih ketika saya tinggalkan, tapi akhirnya saya turuti perintah bu Siti. Saya panggil Dio dari kelasnya kemudian ke dapur dan ke ruang makan untuk menata meja. Setelah itu, buru-buru saya matikan kompor. Saya tuangkan air panas ke dalam air dan saya minumkan air hangat tersebut kepada Ming-ming.
Bruuuuuuuuuukk!!
Tiba-tiba dari arah dapur terdengar suara kencang, seperti benda jatuh. Saya dan beberapa guru lari ke arah dapur, arah suara. Ternyata tutup besi kompor gas jatuh, tersenggol oleh Kelvin, menyebabkan panci berisi air mendidih pun tumpah. Masya Allah!!! Menyesal saya karena meninggalkan panci dengan air mendidih begitu saja. Untungnya tidak ada yang terkena air panas. Aaaaaaaakkk! Buru-buru saya minta maaf. Ini kesalahan saya yang kesekian, saking sibuk dan banyak yang harus dikerjakan.
Belum berakhir sampa disini. Setelah siswa-siswa Mandiga kelas pagi (yang membuat kehebohan dan membuat saya pusing ingin berteriak) pulang, saya diingatkan oleh Bu Wanti. Aduhhh apa lagi ini ya??. Ternyata saya lupa mengingatkan Dio untuk merapikan kembali alas makan yang digunakan. Ya Allaaaaaahhh, *tepokjidat*, kok saya bisa lupa toh..
Syukur alhamdulillah, dengan berakhirnya pembelajaran siswa-siswa Mandiga kelas pagi berakhir pula kehebohan yang bikin ‘eeeeeerrr’ hari ini. Kelas siang berjalan dengan lancar… :D *senyum lebar-lebar*

0 komentar:
Posting Komentar