Jumat, 28 Oktober 2011

Menjadi Guru Tak Semudah yang Dibayangkan

Ini minggu ke-6 sejak pertama kali aku membulatkan tekad untuk menjadi guru PAUD di Dewintha. Awalnya hanya ingin mencoba. Ya, mencoba mengaplikasikan ilmu-ilmu Psikologi ku, mencoba untuk mengisi waktu kosong di semester 7, mencoba untuk mencari kebahagiaan bersama anak-anak itu, dan mencoba untuk belajar banyak hal dari guru-guru disana.

Hanya ingin mencoba.

Di minggu awal aku merasakan Selasa-ku menyenangkan (kebetulan hanya hari selasa aku part time disana). Selasa adalah hari ku bermain dan belajar bersama mereka, anak-anak riang penuh canda tawa. Aku senang. Dan selalu menunggu hari Selasa datang :)

Setelah minggu-minggu awal berlalu, muncul berbagai tantangan yang menyadarkan ku bahwa menjadi guru PAUD itu tidak semudah yang aku bayangkan. Awalnya aku berpikir "Daripada ngajarin orang dewasa, mending ngajarin anak-anak. Bisa sekalian main-main pula, mereka kan lucu-lucu".

Ternyata...

Menjadi guru PAUD itu tidak semudah yang dibayangkan.

Kisah hari ini semakin memperkuat pernyataan ku barusan. Mengawali hari, tiba-tiba salah seorang guru di sana memberitahu ku tentang perubahan tema pelajaran hari ini. Whaaaaaaaaaaaaaaattttt?!

Aku sudah siapkan semua yang dibutuhkan untuk hari ini, aku sudah siapkan apa yang akan ku jelaskan pada mereka. Aku baca kembali buku pedoman "sentra balok". Dan seakan-akan semua yang sudah ku siapkan tiada arti lagi. *nangis di pojokan*

Buru-buru aku tanya kepada guru disana apa yang harus aku siapkan. Dengan waktu sangat terbatas, aku pikir aku belum siap melalui hari ini :((

Ada perasaan takut, cemas, khawatir ketika tahu bahwa untuk hari ini aku menjadi guru utama kelas A. Gimana perasaan itu tidak muncul?

Kau tahu, ini pertama kalinya aku menjadi guru utama (setelah sebelumnya aku hanya menjadi guru pelengkap). Ini adalah pertama kalinya aku harus menghadapi anak-anak kelas A yang usianya lebih muda dari kelas B yang biasa aku ajar.

Awalnya aku cukup bisa menguasai anak-anak dengan baik.

JENG JENG JENG!! ENG ING ENG!!

Di tengah kegiatan kelas, kericuhan muncul satu per satu. Di awali dari Fayza yang "ngambek" gak mau mengikuti kegiatan membuat balok karena dia gak mau sekelompok sama Omar, dia hanya mau main sama Zano.

Aku berusaha untuk membujuknya. Aku tanya kepada nya "Kenapa gak mau sama Omar?". Fayza tidak menjawab. Ia hanya cemberut dan diam. Aku bujuk ia, tapi bujuk rayu ku tidak bisa membuatnya tersenyum dan ikut melakukan kegiatan bersama teman-teman yang lain. Mendengar Omar memanggil ku "Ka Faraaaahh, aku sudah jadi buat pabrik buah. Coba liat!". Buru-buru aku alihkan perhatianku pada Omar. Aku abaikan Fayza sementara waktu.

Suasana menjadi semakin menyebalkan ketika Ilham tidak mau melakukan kegiatan bermain balok. Ilham bilang kepadaku sambil berbisik "Aku ga mau sama Danis, bangunan buatan Danis jelek".

Ya Allah...

Aku beri penjelasan pada Ilham. Aku bujuk ia agar mau membuat bangunan dari balok. Tapi emang dasar anak-anak, bukannya buat bangunan malah gangguin teman yang sedang membuat bangunan. Ilham please deh! Grrrrrr

Pusing? Itu belum seberapa mengejutkan kalau liat Ilham berebutan mainan sama Zano. Jujur bingung banget harus diapakan ini anak-anak. Semua cara sudah aku keluarkan.

Masalah Fayza dan Ilham belum selesai, tiba-tiba dari arah samping terdengar suara tangis. Ya ampun, ini suara Cici. Cici nangis. OMG! Ada apa lagi ini???

Aku lihat ke arah Cici dan ternyata balok-balok yang dibuat Cici hancur tak tersisa karena dirobohkan oleh Zano. Wajarlah kalau Cici nangis, dari semua bangunan balok anak-anak kelas A, bangunan balok Cici lah yang paling bagus.

Cici nangis. Zano dan Ilham berantem. Fayza ngambek dan cemberut. Terjadi secara bersamaan!

Aaaaaaakkkkk.. Tolong!! Apa yang harus ku lakukan?? *muka memelas*

Aku malu karena kebetulan di hari ini ada guru-guru dari sekolah lain yang sedang melakukan observasi terhadap pembelajaran di kelas kami. Terlihat sekali aku tidak berpengalaman dalam mengurus anak-anak. Aku belum cakap memahami karakteristik mereka semua. Ternyata sangat susah menerapkan teori di kehidupan asli.

Rasanya mau nangis. Ini mata sudah berkaca-kaca. Tinggal menunggu tumpah. Bleh!

Merasa tidak sanggup menghadapi anak-anak seorang diri, kemudian aku pergi keluar mencari bantuan. Aku bilang semua masalah kepada salah seorang guru dengan tatapan memelas ingin nangis.

"Ibu Ella.. bantuin aku di kelas A. Aku bingung mau gimana lagi bu. Anak-anak pada berantem".

Sejak kedatangan Bu Ella, Bu Ella lah yang mengatur anak-anak kelas A sampai selesai kelas. Bu Ella membantu aku untuk menenangkan diri.

Bu Ella bilang "Kelas A emang masih suka susah di atur, maklum usianya kan lebih muda daripada kelas B. Ka Farah ga usah khawatir ya. Ayo diminum dulu biar tenang. Ka Farah semangat ya. Gak apa-apa kok. Lain waktu kita sama-sama sharing tentang anak-anak ya. Udah jangan sedih ka"

"Aku jelas sedih bu. Aku ngerasa belum maksimal jadi guru. Aku ngerasa belum bisa apa-apa. Tadi aku bingung banget loh bu menanggapi mereka semua. Aku masih harus banyak banget belajar bu." Jawab ku

"Maaf ya bu"

"Ayo ah ka Farah semangat. Ga apa-apa kok kak. Nanti kita ngobrol lagi ya" Balas Bu Ella.

Kesedihan ku ini berkurang setelah pulang sekolah. Karena masalah barusan, kelas A harus tetap diam di tempat sehingga belum boleh pulang. Bu Ella dengan sangat sabar menanyakan kepada anak-anak satu persatu tentang apa yang mereka lakukan barusan. Bu Ella tau banget gimana memperlakukan anak-anak. Dia tau kapan dia harus baik dan kapan dia harus tegas kepada anak-anak.

Di akhir, setelah kami menyelesaikan masalah secara bersama-sama, Bu Ella meminta Fayza, Zano, Cici, dan Ilham untuk berjanji tidak akan mengulanginya hari-hari kedepan dan meminta maaf kepada aku.

Mereka secara bergantian menyalami tangan ku dan meminta maaf kepada ku.

"Maafin aku ya ka Farah" kata anak-anak itu.

Mendengar permintaan maaf mereka, aku jadi tambah pengen nangis. Sesak membayangkan kehebohan yang terjadi barusan. Mana mungkin seorang guru tidak memaafkan anak-anaknya?

"Iya ka Farah maafin kok, besok kelas A harus lebih baik lagi ya. Inget janji yang tadi sayang." kata ku kepada mereka.

Aku peluk mereka satu-satu. Aku sayang kalian, anak-anak ku! :*

Setelah anak-anak pulang aku menghampiri Bu Ella. Bu Ella memberikan aku pengalaman yang luar biasa hari ini. Berkali-kali aku ucapkan maaf dan terimakasih padanya. Maaf karena telah membuat kehebohan di dalam kelas dan belum bisa mengendalikan anak-anak di kelas. Dan terimakasih karena sudah membantu menenangkan anak-anak dan memberikan pengalaman kepada ku.

Terharu lagi ketika aku datang ke tempat Bu Shinta, kepala sekolah. Aku cerita tentang kericuhan yang terjadi di kelas A.

Kata Bu Shinta "Oh ga apa-apa ka. Namanya juga lagi belajar. Malah bagus. Kalau tau kesalahannya kan jadi mau belajar lebih banyak. Jangan kapok-kapok ya. Nanti kita belajar sama guru-guru lain tentang kendala yang kita hadapi. Oke ka Farah.

Alhamdulillah.. Semakin semangat lah untuk belajar bagaimana cara mendidik dan mengajar anak-anak dengan baik :))

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by YummyLolly.com