Jumat, 28 Oktober 2011
Pendidik = Artis serba bisa
Buku Psikologi Perkembangan, I am coming! :)
Saat ini, buku yang -sangat amat- ingin dibaca adalah buku Psikologi Perkembangan!! Tapi baru sebatas niatan, belum sempet nyentuh buku-buku psikologi perkembangan SAMSEK (sama sekali)! :"(
Mungkin kondisi lingkungan sekarang yang menuntut saya untuk lebih belajar tentang perkembangan, khususnya psikologi perkembangan anak!
Gimana gak dituntut coba, sekarang udah punya keponakan. Sebagai Auntie yang belajar ilmu psikologi, harusnya tau dong gimana perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial keponakannya. Hehehe :)
Si Akmal ganteng bisa juga tuh dijadiin bahan observasi dan percobaan untuk teori-teori Psikologi.. Maaf ya dedek Akmal, Auntie lakukan demi kebaikan kita bersama. Cium-cium dedek :*
Ditambah lagi kerjaan saya sebagai guru PAUD Dewintha, yang setiap minggu nya berjumpa dengan anak-anak yang bikin emeeeeeesshh... *cubit-cubit*
Baru ngerasain loh kalau jadi guru PAUD itu gak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak banget kendalanya. Enaknya sih disebut tantangan kali ya! Ya, banyak tantangannya. Karena yang saya hadapi adalah anak-anak di masa emas. Masa-masa dimana kemampuan mereka dalam mempelajari sesuatu itu hingga mencapai 50% kemampuan.
Semakin sangat butuh untuk kembali belajar psikologi perkembangan ketika saya (nantinya) dinyatakan lolos untuk menjadi pengajar di Gerakan UI Mengajar. Eyaampuuun.. Belum apa-apa udah deg-deg-an loh ya! :P
Woooow.. Jadi lah saya harus belajar untuk menjadi pendidik yang bisa memberikan mereka contoh yang baik, bisa memberikan mereka pengalaman belajar yang menyenangkan, dan tentunya bisa jadi idola bagi mereka. Idola? Hahaha :D *sok-sok-an artis deh*.
Setidaknya dengan saya belajar kembali psikologi perkembangan, saya jadi semakin paham tentang perkembangan anak-anak, baik pada aspek fisik, kognitif, dan psikososialnya. Dengan mengetahui karakteristik anak-anak, saya jadi bisa memberikan perlakuan yang tepat kepada mereka. Kalau udah ada ilmunya akan semakin mudah untuk diaplikasikan di kehidupan sehari-hari, ya kaan? :)
Hemm kalau diinget-inget kebutuhan untuk belajar itu semua jadi ga sabar untuk langsung buka buku-buku psikologi perkembangan. Hihihhi :p
Mari menyelami dunia anak-anak, dunia yang selalu penuh kebahagiaan lewat buku-buk psikologi perkembangan!
Buku psikologi perkembangan, I am comiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggg!! :DD
Menjadi Guru Tak Semudah yang Dibayangkan
Ini minggu ke-6 sejak pertama kali aku membulatkan tekad untuk menjadi guru PAUD di Dewintha. Awalnya hanya ingin mencoba. Ya, mencoba mengaplikasikan ilmu-ilmu Psikologi ku, mencoba untuk mengisi waktu kosong di semester 7, mencoba untuk mencari kebahagiaan bersama anak-anak itu, dan mencoba untuk belajar banyak hal dari guru-guru disana.
Hanya ingin mencoba.
Di minggu awal aku merasakan Selasa-ku menyenangkan (kebetulan hanya hari selasa aku part time disana). Selasa adalah hari ku bermain dan belajar bersama mereka, anak-anak riang penuh canda tawa. Aku senang. Dan selalu menunggu hari Selasa datang :)
Setelah minggu-minggu awal berlalu, muncul berbagai tantangan yang menyadarkan ku bahwa menjadi guru PAUD itu tidak semudah yang aku bayangkan. Awalnya aku berpikir "Daripada ngajarin orang dewasa, mending ngajarin anak-anak. Bisa sekalian main-main pula, mereka kan lucu-lucu".
Ternyata...
Menjadi guru PAUD itu tidak semudah yang dibayangkan.
Kisah hari ini semakin memperkuat pernyataan ku barusan. Mengawali hari, tiba-tiba salah seorang guru di sana memberitahu ku tentang perubahan tema pelajaran hari ini. Whaaaaaaaaaaaaaaattttt?!
Aku sudah siapkan semua yang dibutuhkan untuk hari ini, aku sudah siapkan apa yang akan ku jelaskan pada mereka. Aku baca kembali buku pedoman "sentra balok". Dan seakan-akan semua yang sudah ku siapkan tiada arti lagi. *nangis di pojokan*
Buru-buru aku tanya kepada guru disana apa yang harus aku siapkan. Dengan waktu sangat terbatas, aku pikir aku belum siap melalui hari ini :((
Ada perasaan takut, cemas, khawatir ketika tahu bahwa untuk hari ini aku menjadi guru utama kelas A. Gimana perasaan itu tidak muncul?
Kau tahu, ini pertama kalinya aku menjadi guru utama (setelah sebelumnya aku hanya menjadi guru pelengkap). Ini adalah pertama kalinya aku harus menghadapi anak-anak kelas A yang usianya lebih muda dari kelas B yang biasa aku ajar.
Awalnya aku cukup bisa menguasai anak-anak dengan baik.
JENG JENG JENG!! ENG ING ENG!!
Di tengah kegiatan kelas, kericuhan muncul satu per satu. Di awali dari Fayza yang "ngambek" gak mau mengikuti kegiatan membuat balok karena dia gak mau sekelompok sama Omar, dia hanya mau main sama Zano.
Aku berusaha untuk membujuknya. Aku tanya kepada nya "Kenapa gak mau sama Omar?". Fayza tidak menjawab. Ia hanya cemberut dan diam. Aku bujuk ia, tapi bujuk rayu ku tidak bisa membuatnya tersenyum dan ikut melakukan kegiatan bersama teman-teman yang lain. Mendengar Omar memanggil ku "Ka Faraaaahh, aku sudah jadi buat pabrik buah. Coba liat!". Buru-buru aku alihkan perhatianku pada Omar. Aku abaikan Fayza sementara waktu.
Suasana menjadi semakin menyebalkan ketika Ilham tidak mau melakukan kegiatan bermain balok. Ilham bilang kepadaku sambil berbisik "Aku ga mau sama Danis, bangunan buatan Danis jelek".
Ya Allah...
Aku beri penjelasan pada Ilham. Aku bujuk ia agar mau membuat bangunan dari balok. Tapi emang dasar anak-anak, bukannya buat bangunan malah gangguin teman yang sedang membuat bangunan. Ilham please deh! Grrrrrr
Pusing? Itu belum seberapa mengejutkan kalau liat Ilham berebutan mainan sama Zano. Jujur bingung banget harus diapakan ini anak-anak. Semua cara sudah aku keluarkan.
Masalah Fayza dan Ilham belum selesai, tiba-tiba dari arah samping terdengar suara tangis. Ya ampun, ini suara Cici. Cici nangis. OMG! Ada apa lagi ini???
Aku lihat ke arah Cici dan ternyata balok-balok yang dibuat Cici hancur tak tersisa karena dirobohkan oleh Zano. Wajarlah kalau Cici nangis, dari semua bangunan balok anak-anak kelas A, bangunan balok Cici lah yang paling bagus.
Cici nangis. Zano dan Ilham berantem. Fayza ngambek dan cemberut. Terjadi secara bersamaan!
Aaaaaaakkkkk.. Tolong!! Apa yang harus ku lakukan?? *muka memelas*
Aku malu karena kebetulan di hari ini ada guru-guru dari sekolah lain yang sedang melakukan observasi terhadap pembelajaran di kelas kami. Terlihat sekali aku tidak berpengalaman dalam mengurus anak-anak. Aku belum cakap memahami karakteristik mereka semua. Ternyata sangat susah menerapkan teori di kehidupan asli.
Rasanya mau nangis. Ini mata sudah berkaca-kaca. Tinggal menunggu tumpah. Bleh!
Merasa tidak sanggup menghadapi anak-anak seorang diri, kemudian aku pergi keluar mencari bantuan. Aku bilang semua masalah kepada salah seorang guru dengan tatapan memelas ingin nangis.
"Ibu Ella.. bantuin aku di kelas A. Aku bingung mau gimana lagi bu. Anak-anak pada berantem".
Sejak kedatangan Bu Ella, Bu Ella lah yang mengatur anak-anak kelas A sampai selesai kelas. Bu Ella membantu aku untuk menenangkan diri.
Bu Ella bilang "Kelas A emang masih suka susah di atur, maklum usianya kan lebih muda daripada kelas B. Ka Farah ga usah khawatir ya. Ayo diminum dulu biar tenang. Ka Farah semangat ya. Gak apa-apa kok. Lain waktu kita sama-sama sharing tentang anak-anak ya. Udah jangan sedih ka"
"Aku jelas sedih bu. Aku ngerasa belum maksimal jadi guru. Aku ngerasa belum bisa apa-apa. Tadi aku bingung banget loh bu menanggapi mereka semua. Aku masih harus banyak banget belajar bu." Jawab ku
"Maaf ya bu"
"Ayo ah ka Farah semangat. Ga apa-apa kok kak. Nanti kita ngobrol lagi ya" Balas Bu Ella.
Kesedihan ku ini berkurang setelah pulang sekolah. Karena masalah barusan, kelas A harus tetap diam di tempat sehingga belum boleh pulang. Bu Ella dengan sangat sabar menanyakan kepada anak-anak satu persatu tentang apa yang mereka lakukan barusan. Bu Ella tau banget gimana memperlakukan anak-anak. Dia tau kapan dia harus baik dan kapan dia harus tegas kepada anak-anak.
Di akhir, setelah kami menyelesaikan masalah secara bersama-sama, Bu Ella meminta Fayza, Zano, Cici, dan Ilham untuk berjanji tidak akan mengulanginya hari-hari kedepan dan meminta maaf kepada aku.
Mereka secara bergantian menyalami tangan ku dan meminta maaf kepada ku.
"Maafin aku ya ka Farah" kata anak-anak itu.
Mendengar permintaan maaf mereka, aku jadi tambah pengen nangis. Sesak membayangkan kehebohan yang terjadi barusan. Mana mungkin seorang guru tidak memaafkan anak-anaknya?
"Iya ka Farah maafin kok, besok kelas A harus lebih baik lagi ya. Inget janji yang tadi sayang." kata ku kepada mereka.
Aku peluk mereka satu-satu. Aku sayang kalian, anak-anak ku! :*
Setelah anak-anak pulang aku menghampiri Bu Ella. Bu Ella memberikan aku pengalaman yang luar biasa hari ini. Berkali-kali aku ucapkan maaf dan terimakasih padanya. Maaf karena telah membuat kehebohan di dalam kelas dan belum bisa mengendalikan anak-anak di kelas. Dan terimakasih karena sudah membantu menenangkan anak-anak dan memberikan pengalaman kepada ku.
Terharu lagi ketika aku datang ke tempat Bu Shinta, kepala sekolah. Aku cerita tentang kericuhan yang terjadi di kelas A.
Kata Bu Shinta "Oh ga apa-apa ka. Namanya juga lagi belajar. Malah bagus. Kalau tau kesalahannya kan jadi mau belajar lebih banyak. Jangan kapok-kapok ya. Nanti kita belajar sama guru-guru lain tentang kendala yang kita hadapi. Oke ka Farah.
Alhamdulillah.. Semakin semangat lah untuk belajar bagaimana cara mendidik dan mengajar anak-anak dengan baik :))
(Manager) Human Resources Development
Tiba-tiba dapet sms dari seorang senior.
"Assalamualaikum Farah, kamu sekarang lagi sibuk apa? Tertarik gabung di Nalacity ga? Hehehe, maap ya langsung tembak. Kita lagi cari manager HRD. Tapi kita mau yang udah kenal, kayak Farah. Gimana? :)"
Aaaaaakk.. butuh waktu cukup lama untuk menjawab tawaran itu karena melihat begitu banyak pertimbangan. Tsaelaaaaaahh~
Di satu sisi, saya memang pernah bantu Nalacity ketika mengadakan pelatihan untuk ibu-ibu di Kampung Sitanala. Meskipun saya hanya menjadi HPD yang tugasnya mendokumentasikan rangkaian kegiatan, tapi saya cukup tertarik dengan kegiatan sosial di sana.
Selain itu, saya cukup banyak terlibat dengan mantan penderita kusta/lepra di Sitanal. Hampir 2 tahun saya bergabung di Leprosy Care Community (LCC), sebuah komunitas peduli penyakit lepra/kusta di daerah Sitana Tanggerang. Beberapa kali pernah berkunjung dan bermukim disana bersama dengan penduduk asli Sitana, membuat saya tergerak hatinya "do something" untuk Sitanala.
Tapi di sisi lain, rasa-rasanya kok yaa banyak juga loh amanah yang sudah saya ambil. Dari mulai Kesma, part time Dewintha, Rumah Pelangi, asongan jadi tester LPT UI, sampe tugas maha penting yaitu tugas kuliah!! Belum lagi kalau lihat rencana jangka panjang di PKM-M tentang pendidikan karakter sama rencana di GUIM! *tarik napas panjang*
Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya saya memutuskan untuk menerima tawaran menjadi manager HRD! Kupilih engkau dengan basmallah :"))
Ini sesuatu banget deh. Bener-bener baru, belum ada pengalaman. Emang sih tugas nya ga jauh-jauh dari PSDM, yaah makanan sehari-hari anak Psikologi. Tapi karena saya belum pernah terlibat di bidang HRD atau PSDM macam ini, jadi saya harus banget belajar!!
Belajar apa? Belajar untuk mengembangkan sumber daya manusia dan organisasi. Eyaampuuuunn.. Saya jadi ngebayangin jobdesnya bakal ga jauh-jauh dari memberikan semangat kepada tim Nalacity, membuat kegiatan gathering antar pengurus, atau melakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan untuk menyolidkan tim.
Kalau saya sudah nyemplung di sini, mau gak mau saya harus "available" saat suka maupun duka untuk tim Nalacity. Hehehe :) *penerapan kuliah konseling dan kuliah di psikologi lainnya selama 3 tahun harus dikeluarkan!*
Jujur saja, saya sangat menikmati kegiatan yang saya lakukan. Ini semua menantang. Saya jadi ingat, ketika awal menjadi mahasiswa, sempat saya tuliskan 3 bidang yang ingin saya ikuti untuk ikut terlibat banyak di dalamnya. Pertama, pengabdian masyarakat. Kedua, kesejahteraan mahasiswa. Dan ketiga, PSDM!
Alhamdulillah yaa~ pengabdian masyarakat dan kesejahteraan mahasiswa bisa sayachecklist. Nah, PSDM-nya coming soon! :D
Kalau ada kesempatan untuk mengaktualisasikan diri, kesempatan belajar banyak dari orang-orang hebat, dan kesempatan untuk semakin menebar kebermanfaatan diri, kenapa harus ditolak? :)
Bismillah. Semoga Allah bantu saya untuk menjalani ini semua. Bantu saya untuk tetap menjaga amanah ini, ya Allah :")
Minggu, 02 Oktober 2011
Selasa Bahagia
Kalau kau tanya kapan hari favorit-ku, akan ku jawab hari Selasa! Ya hari Selasa, hari setelah Senin dan sebelum Rabu. Kenapa begitu? Jawabannya gampang saja. Setiap hari Selasa aku menemukan kebahagiaan bersama mereka. Mereka? Iyaaa, mereka murid-murid ku di PAUD Dewintha, dimana aku belajar dan mengajar tentang bagaimana mendidik dan mengasuh anak dengan baik. Aku bangga menjadi guru. Aku lah si guru awet muda! hihihi karena murid-muridku dibiasakan memanggilku dengan sebutan kakak Farah, bukan bu Farah loh! Kesannya kalau dipanggil Ibu berasa tua gimana gitu! hehehe :)
Setiap minggunya, selalu ada saja kejadian yang membuat ku senyum-senyum. Wajar saja jika aku senyum-senyum jika melihat tingkah laku mereka yang lucu dan bikin gemeeeeesshh. Celotehan mereka sungguh polos. Aku akan dengan sangat senang jika mereka bisa berpartisipasi dengan aktif, menghormati guru dan teman-teman, serta bisa mematuhi peraturan yang telah mereka sepakati. Meski kadang aku pun kerepotan untuk memberikan perhatianku secara adil kepada mereka dan pastinya akan repot untuk melerai dan mendamaikan diantara mereka yang sedang berantem. Sama repotnya jika harus menghadapi anak yang menangis karena tidak mau berpisah dengan Ibu.
Berhadapan dengan mereka, ikut terlibat di dunia anak-anak membuat ku harus berpikir lebih keras dan kreatif tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik. Misalnya saja ketika aku harus mencari alasan yang logis dengan kalimat yang tepat hanya untuk menghindari penggunaan kata “tidak” dan“jangan” dihadapan anak-anak. Atau ketika di awal pembelajaran, kami, para guru harus menyiapkan segala sesuatu yang akan dipelari oleh anak-anak. Nah ini juga perlu kreativitas. Belum lagi kalau anak-anak pintar itu memberikan pertanyaan pada-ku, mau tidak mau aku harus menjawab pertanyaan mereka dengan logis. Selain itu, membujuk anak supaya mau makan itu juga menjadi tantangan tersendiri. Aku dituntut untuk mencari cara agar anak mau makan tanpa harus menakut-nakuti mereka, seperti misalnya “Ayo dimakan, nanti kalau gak makan nasi Allah marah loh!”.
Waktu akan terasa lebih cepat jika bisa bermain dan belajar bersama mereka. Aku sangat menikmati proses pembelajaranku di PAUD Dewintha ini. Harapanku, suatu hari nanti, aku dapat mendidik anak-anak ku dengan baik. Anak kita :)
Akram, murid istimewa-ku!
Sebagai seorang anak autis, Akram mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain, berkomunikasi, dan sering melakukan tingkah laku yang repetitif. Karena adanya kerusakan neurologi pada dirinya, ia juga mengalami kesulitan dalam membaca dan mengalami kerusakan dalam mengolah informasi di long term memory-nya. Suatu hari, seperti biasa, sebelum memulai pelajaran murid-murid di Mandiga disuruh berkeliling mencari guru untuk menyapa dan bertanya kepada guru. Ini dilakukan untuk mengembangkan kemampuan sosialisasi murid-murid disana. Akram disuruh untuk bertanya kepada salah satu guru. Intinya Akram bertanya (dengan bahasa yang tidak jelas dan terbata-bata) “Bu guru apa kabar?”. Bu guru menjawab “sehat wal afiat”. Dua menit setelahnya, Akram ditanya tentang jawaban guru, ia masih dapat menjawab. Tapi, saat di kelas, ditanyakan kembali, ia sudah lupa dengan jawaban guru tersebut. Tet tot! Ah Akram, jadi pengen cubiiit gemeeeesshh! hehehe :)
Banyak tingkah laku Akram yang tidak bisa aku lupakan. Ia suka sekali dengan sedotan. Hanya untuk dimainkan di dalam mulut. Guru-guru baru akan memberikan sedotan hanya jika Akram belajar dengan baik. Kamu mungkin akan tersenyum jika mendengar ia menyebut ‘sedotan’ dengan kata“jojodaaann! jojodaaaann!”
Tingkah laku repetitif yang bisa membedakan Akram dengan murid-murid lain itu kebiasaannya untuk beres-beres! hehehe. Mungkin kamu akan bingung, kenapa beres-beres? Itulah yang menarik dari Akram. Ia selalu membersihkan dan membereskan segala sesuatu yang menurutnya berantakan. Jika ada barang yang tidak berada pada tempat seharusnya, ia akan secara spontan membereskannya. Rasanya pengen culik Akram, bawa ke rumah buat disuruh beres-beres! hihihi :p
Satu lagi kebiasaanya yang tidak bisa dilupakan! Akram-ku sangat genit pada wanita. Ihihihi. Kamu tau apa yang ia lakukan pada ku? Ia sering mencoba memeluk dan mencium ku, saat kami berpapasan. OMG! Aku langsung bereaksi jika Akram sudah melakukan hal ini. Aku akan menyebut namanya sambil sedikit membentak dan berusaha untuk menjauhkan mukanya dari ku. Ini terpaksa aku lakukan. Sungguh. Aku dan guru-guru di Mandiga berusaha untuk mendidik-nya agar ia bisa bertingkah laku sesuai dengan norma sehingga dapat dengan mudah diterima di masyarakat.
Dengan segala tingkah laku uniknya yang kadang membuat ku jengkel tapi lebih sering membuatku tersenyum bahkan tertawa, ia tetap menjadi murid-ku yang istimewa. Akram!
Sedikit cerita tentang Akram semoga bermanfaat untuk-mu. Suatu hari nanti, semoga kamu bisa bertemu dengannya agar kau lebih tau mengapa ia istimewa dimataku.
What an 'eeerrrr' Day. uhh!
Hari apa sih ini?? Hari Kamis! Ya, hari Kamis, saya kembali magang setelah liburan hampir sebulan meninggalkan Mandiga. Kalau dihitung-hitung, magang sudah 13 hari. Itu artinya masih ada 3 hari sisa magang yang harus segera dilunaskan. ASAP!!
Ini magang bukan magang biasa. Azeeeekk~ Lebih ‘wwaaaaaww’ dari hari-hari magang sebelumnya. Magang hari ini saya harus magang sendirian :’( *lap air mata*.. Mengawali hari, semua berjalan tidak cukup biasa. Bertubi-tubi kerjaan datang dari para guru. Tidak lain dan tidak bukan disuruh membuat worksheetsiswa-siswi Mandiga. Dari mulai membuat soal penjumlahan, pengurangan, soal membaca, sampai menggunting, ngelem, laminating dll. Pekerjaan ini biasa sih sebenernya. Tapi yang membuat tidak biasa adalah saya harus mengerjakan sendiri (tanpa dua orang teman magang saya). Hikshiks. Untungnya ada Bu Siti, administrator di Mandiga yang dengan sangat baik hati membantu pekerjaan saya hari ini. Maaci eyaa Ibu Citiiiii… *sok imut mode on* :D
Detik demi detik dan menit ke menit berlalu.. Tiba-tiba dari ruang tengah muncul kehebohan. Pasalnya, bu Imah memasukkan Akram ke ruang tenang. Dan ternyata ruang tenang tidak bisa dibuka!! Nangis Akram semakin kencang. Para guru berusaha untuk membuka pintu sekaligus menenangkan Akram. Dari kelas D keluarlah bu Aida bersama Raksan. Niat awal bu Aida ingin memasukkan Raksan yang terus menerus menangis ke dalam ruang tenang. Namun, melihat ruang tenang masih ada Akram, bu Aida membawa Raksan ke taman. Saya diminta bu Aida untuk mengawasi Raksan. Menit pertama dan seterusnya, Raksan masih dapat saya awasi dengan baik. Tapi tiba-tiba, bu Aida ke taman dan berteriak, “Raksaaaaaaaaaaaann!! STOOPP!!”.
Ampuuuunn. Ada apa lagi ini?? Karena saya kurang mengawasi Raksan dengan baik, saya terlalu fokus pada kerjaan di komputer, jadilah Raksan main air di taman.
Belum selesai dengan kehebohan dari Raksan, bu Julita keluar dari kelas membawa Ming-ming yang sakit perut. Ia muntah-muntah. Saking sering dan tidak keburunya Ming-ming ke kamar mandi, membuat muntahannya itu berceceran di bangku dan lantai. Badannya terlihat lemas, matanya pun telihat layu. Ohh kasian Ming-ming ku..
Bu Julita memasak air panas untuk Ming-ming. Karena bu Julita juga harus mengajar di kelasnya, saya diminta untuk menemani Ming-ming sambil menunggu kalau-kalau air sudah mendidih. Ketika sedang menunggu air hingga mendidih, belum sampai mendidih saya sudah diminta oleh bu Siti untuk memanggil salah satu siswa Mandiga untuk menata meja. Setengah enggan, karena khawatir air sudah mendidih ketika saya tinggalkan, tapi akhirnya saya turuti perintah bu Siti. Saya panggil Dio dari kelasnya kemudian ke dapur dan ke ruang makan untuk menata meja. Setelah itu, buru-buru saya matikan kompor. Saya tuangkan air panas ke dalam air dan saya minumkan air hangat tersebut kepada Ming-ming.
Bruuuuuuuuuukk!!
Tiba-tiba dari arah dapur terdengar suara kencang, seperti benda jatuh. Saya dan beberapa guru lari ke arah dapur, arah suara. Ternyata tutup besi kompor gas jatuh, tersenggol oleh Kelvin, menyebabkan panci berisi air mendidih pun tumpah. Masya Allah!!! Menyesal saya karena meninggalkan panci dengan air mendidih begitu saja. Untungnya tidak ada yang terkena air panas. Aaaaaaaakkk! Buru-buru saya minta maaf. Ini kesalahan saya yang kesekian, saking sibuk dan banyak yang harus dikerjakan.
Belum berakhir sampa disini. Setelah siswa-siswa Mandiga kelas pagi (yang membuat kehebohan dan membuat saya pusing ingin berteriak) pulang, saya diingatkan oleh Bu Wanti. Aduhhh apa lagi ini ya??. Ternyata saya lupa mengingatkan Dio untuk merapikan kembali alas makan yang digunakan. Ya Allaaaaaahhh, *tepokjidat*, kok saya bisa lupa toh..
Syukur alhamdulillah, dengan berakhirnya pembelajaran siswa-siswa Mandiga kelas pagi berakhir pula kehebohan yang bikin ‘eeeeeerrr’ hari ini. Kelas siang berjalan dengan lancar… :D *senyum lebar-lebar*
Part Time Dewintha
Selasa, 13 September 2011
Hari pertama part time di PAUD Dewintha loh! sikasiiiik~
PAUD Dewintha, yang berlokasi di jalan H Nuih (deket gramedia Depok), sudah lama berdiri. Usut punya usut, PAUD Dewintha salah satu PAUD percontohan di Depok. Untuk mengembangkan sumber daya manusia, terutama SDM pendidik adalah salah satu alasan PAUD Dewintha menerima saya dan Ira sebagai guru part time.
Perasaan awal? 20% takut, 40% senang, 40% semangat ‘45!!
Sejak awal, saya memang suka dengan dunia anak-anak. Suka dengan kegiatan belajar dan mengajar. Kesukaan itu lah yang membuat saya memilih untuk bekerja part time di PAUD. Apakah ada alasan lain? Ada. Saya ingin mengaplikasikan ilmu-ilmu Psikologi pada praktek nyata di sekolah. Lebih penting lagi saya jadi bisa belajar banyak tentang parenting dan pendidikan bagi anak-anak.
Semoga satu hari dalam seminggu yang saya miliki dapat bermanfaat bagi saya dan PAUD Dewintha :’)
Murid Spesial nan Cantik
Magang hari ketiga
Jumat 5 Agustus 2011
***
Setiap hari Rabu dan Jumat adalah jawal terapi individual Tasya. Tasya adalah siswi Mandiga yang usianya kurang lebih 9 tahun. Sejak hari kedua magang dan bertemu Tasya, saya langsung senang melihat Tasya. Dengan jilbabnya yang sering terlihat rambut poninya itu Tasya terlihat cantik dan menggemaskan. Tampak sekilas, orang pada umumnya mungkin tidak akan menyangka bila Tasya adalah anak autis. Tasya adalah murid yang ramah. Ia senang menyapa dan mengajak ‘ngobrol’ orang yang ia temui. Pertama kali bertemu, Tasya langsung menghampiri kami untuk bersalaman dan berkenalan. Namun, bila diperhatikan lebih dalam, tingkah laku murid cantik yang satu ini, memang berbeda dari anak-anak umumnya. Ia terlihat kurang bisa menerapkan gaya komunikasi dan sosialisasi sesuai dengan norma di lingkungan. Seperti misalnya, jika melakukan percakapan dengan orang lain, Tasya terlihat sebagai orang yang banyak memberikan pertanyaan. Nada dan gaya bicaranya ketika bertanya kepada orang lain seperti polisi yang sedang menyelidiki kebenaran dari para tersangka. Ia juga suka bertanya dengan rentetan pertanyaan tanpa menunggu jawaban dari orang yang diberikan pertanyaan tersebut.
Suatu hari, ketika kami sedang ngobrol dengan Tasya di ruang tengah, Tasya bertanya “Ka Farah, kenapa make baju warna pink?”. Sebelum saya sempat menjawab pertanyaannya, ia melengos pergi meninggalkan kami menuju kantor seakan tidak peduli dengan jawaban yang akan saya berikan. Kontan saja, kami semua yang ada disana tertawa sambil geleng-geleng melihat tingkah pola Tasya hari itu. Tasya.. Tasya..
Selidik-punya selidik, mendengarkan cerita dari salah seorang guru yang pernah mengajar Tasya sejak usia 4 tahun, katanya Tasya cilik suka berontak. Ia suka marah-marah tidak mau belajar. Jika sudah marah, (lucunya) ia sering membuka pakaian yang ia kenakan. Hihihihi untung kamu masih kecil, Tasya :p. Tasya sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik, lincah, dan pintar. Alhamdulillah yaa, perkembangan Tasya dari tahun ke tahun mengalami kemajuan yang cukup baik. Sekarang Tasya sekolah di SD Pantara, salah satu sekolah inklusi di daerah Jakarta. Meskipun sudah bersekolah di sekolah inklusi, ia masih tetap rajin ke Mandiga untuk terapi individual.
Suatu hari nanti, bisa saya pastikan, saya akan kangen dengan murid spesial nan cantik ini, Tasya :*
My First Day of Internship
Magang hari pertama
Selasa, 2 Agustus 2011
***
Di hari pertama magang. Perasaan canggung, tidak nyaman, tidak bersemangat, bingung, malas adalah perasaan yang (mungkin) wajar dialami di hari pertama permagangan. Semua itu termasuk proses adaptasi yang harus dilewati di tempat yang baru. Sebelum memulai permagangan, saya dan teman-teman bertemu dengan Mba Yuli. Entah jabatan apa yang ia pegang, yang jelas ia cukup penting di Mandiga. Mba Yuli memberikan arahan kepada kami tentang tugas-tugas yang akan kami kerjakan selama magang di Mandiga. Awalnya, saya masih tidak paham dengan tugas-tugas magang, sebelum akhirnya Mba Siti selaku admin disana memberikan arahan yang lebih jelas, dengan langsung memberikan tugas-tugas kepada kami.
Tugas di hari pertama untuk anak magang adalah membuat alat bantu belajar. Kata mba Siti, yang kami buat adalah kartu komunikasi. Kartu komunikasi itu berisi berbagai macam gambar dan kata. Ada gambar alat tulis, alat makan, kata kerja, dsb. Untuk mebuat kartu tersebut, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari gambar dan kata yang diperlukan di dalam komputer, kemudian print gambar tersebut, lalu gunting sesuai dengan bentuknya, tempel gambar tersebut ke karton yang sesuai dengan ukurannya (5x5/7x7/9x9 cm dsb), lalu proses laminating. Jika kartu tersebut digunakan untuk papan komunikasi, maka kartu yang sudah dilaminating, kemudian harus di tempel 'felkro' dengan menggunakan lem aibon. Jadilah kartu komunikasi yang siap digunakan untuk belajar siswa-siswi Mandiga.
Kamis, 28 Juli 2011
belajar yang menyenangkan :)
Setiap anak pada dasarnya cerdas. Kecerdasan setiap anak tidak bisa disamakan. Menurut Howard Garner “Multiple Intelligences”, kecerdasan seseorang meliputi: kecerdasan matematika-logika, bahasa, musikal, visual-spasial, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Jika setiap anak adalah anak yang cerdas, lalu mengapa kita menemukan banyak sekali kasus anak yang tidak mau belajar, anak underachiever, anak yang tidak naik kelas, atau bahkan dikeluarkan dari sekolah?
Mungkin, pertanyaan diatas dapat dijawab melalui teori stimulus-respon. Anak akan berespon sesuai dengan stimulus yang diberikan orang dewasa, terutama orangtua dan guru. Pada masa kanak-kanak lingkungan memiliki peran yang sangat besar sehingga dapat mempengaruhi tingkah laku anak, dalam hal ini tingkah laku belajarnya. Jika kita perhatikan, dewasa ini banyak sekali anak yang dipaksa oleh orangtua untuk belajar sejak kecil. Sejak anak masuk TK, yang notabene-nya adalah taman kanak-kanak, mereka “dipaksa” untuk belajar membaca dan menghitung. Berapa banyak guru di sekolah yang masih menghukum anak didiknya ketika mereka tidak mengerjakan tugas.
Banyak juga kasus orangtua yang memberikan hukuman, baik fisik maupun perkataan, ketika mengetahui anaknya mendapat nilai buruk. Lihat juga berapa banyak orangtua dan guru yang masih menganggap kalau pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam adalah pelajaran yang lebih penting dibandingkan pelajaran yang lain, sehingga anak akan dianggap bodoh apabila mendapat nilai jelek di kedua mata pelajaran tersebut. Ditambah lagi, sistem pendidikan di Indonesia yang masih menggunakan sistem rangking di sekolah.
Beberapa kasus diatas tentunya bisa menimbulkan ketidaknyamanan belajar pada anak. Apa yang akan terjadi jika anak merasa tidak nyaman dalam belajar? Dampaknya, banyak! Anak menjadi malas belajar, motivasi turun, tidak percaya diri, underachiever, suka mencontek, sering bolos dari sekolah, melakukan tindakan kekerasan seperti bullying dan tawuran, tidak naik kelas, bahkan dikeluarkan dari sekolah.
Lalu, apa yang bisa dilakukan agar anak bisa nyaman ketika belajar? Kuncinya adalah menjadikan kegiatan belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan. Disini, peran pendidik, baik orangtua maupun guru sanga besar karena harus dapat menggunakan strategi se-kreatif mungkin agar suasana belajar menjadi lebih menyenangkan.
Rabu, 27 Juli 2011
uang seribu, saya, dan bapak tua

Tidak lama setelah ia duduk, ia terus menurus menunduk. Bapak tua itu sibuk melihat bagian bawah bangku seakan mencari-cari sesuatu. Bahkan ia berkali-kali mengangkat ban mobil yang ada di bagian bawah bangku. Melihat tingkah bapak tua itu, saya secara spontan bertanya.
“kenapa pak?”
“Saya lagi nyari uang saya” balas bapak tua.
Sebelum saya bertanya kepadanya, saya juga sudah mengira kalau bapak tua itu sedang mencari uang-nya yang jatoh. Saya memberanikan diri untuk bertanya karena saat saya memperhatikannya saya meilhat ada uang logam 1000 di dekat ban mobil bagian bawah bangku. Meskipun saya melihat uang tersebut, saya agak ragu bapak tua sedang mencari uang sebesar 1000 rupiah.
Lantas saya tanyakan kembali “Uangnya berapa pak?”.
“Seribu..” jawab si bapak tua.
Ya Tuhan teryata benar, uang yang sedari tadi saya lihat itu lah yang ia cari. Bahkan saya sempat ragu kalau bapak tua itu berusaha dengan keras hanya untuk mencari uang dengan nominal 1000 rupiah.
Buru-buru saya jawab “ini bukan pak!” sambil menunjuk ke uang tersebut.
“Oh iya, terimakasih ya” kata bapak tua sambil tersenyum dengan wajah bersinar.
Saya tersentil dengan kejadian ini. Selama ini, mungkin saya termasuk orang yang sering meremehkan uang seribu rupiah. Bagi saya uang seribu rupiah tidak ada arti apa-apa karena tidak banyak yang bisa dilakukan dengan uang tersebut. Saya akan mengabaikan jika saya kehilangan uang seribu rupiah. Bahkan saking tidak peduli, saya mungkin tidak akan tahu jika uang seribu yang saya miliki hilang.
Sejak saat itu, melalui uang logam seribu rupiah dan bapak tua, saya jadi belajar bahwa ada banyak orang di luar sana yang sangat amat menghargai besaran uang seribu rupiah. Uang seribu rupiah ah hidup mereka digantungkan. Dengan uang seribu rupiah, mereka bisa membayar banyak hal. Mereka bisa mengumpulkan uang seribu rupiah untuk membeli makan keluarga. Dengan uang seribu rupiah yang mereka tabung hari demi hari, mungkin lama-lama akan terkumpul sehingga bisa membiayai pendidikan mereka atau pendidikan anak-anak mereka. Uang seribu rupiah sangat berarti demi kelangsungan hidup sebagian orang.
Terimakasih bapak tua. Semoga engkau selalu diberikan kesehatan dan rejeki yang halal untuk membesarkan anak-anak mu yang kelak akan mengharumkan derajat keluargamu.
Minggu, 10 Juli 2011
13 indikator keberhasilan dalam dunia kerja
Prof. George Boggs meneliti tentang adanya 13 indikator keberhasilan seseorang dalam dunia kerja, diantaranya adalah:
- Jujur
- Tepat waktu
- Bisa menyesuaikan diri dengan orang lain
- Bisa bekerjasama dengan atasan
- Menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik
- Motivasi tinggi untuk memperbaiki diri
- Percaya diri
- Mampu berkomunikasi dan menjadi pendengar yang baik
- Mampu bekerja mandiri dengan supervisi minimum
- Tahan terhadap stres
- Mempunyai kecerdasan sesuai kebutuhan
- Bisa membaca dengan pemahaman yang memadai
- Mengerti dasar-dasar menghitung
Ternyata 10 dari 13 indikator (77%) merupakan dominan otak kanan, sedangkan sisanya (22%) menyangkut otak kiri (Megawangi, 2007). Aktivitas otak kanan seperti misalnya seni, keterampilan, kreativitas, dan juga kualitas hubungan dengan diri sendiri serta orang lain merupakan indikator terbanyak yang dapat menentukan keberhasilan seseorang di dalam dunia kerja (seperti pada data diatas).
Hmm.. saya jadi berpikir ulang, berapa lama waktu yang dihabiskan sekolah-sekolah (dalam hal ini pendidik) di Indonesia untuk mengajarkan siswanya dalam mengembangkan otak kanan? Tentu jumlahnya lebih sedikit (bahkan jauh lebih sedikit) jika dibandingkan dengan pengajaran dengan hanya menggunakan kemampuan dan pengembangan otak kiri. Sistem pengajaran di Indonesia saat ini masih menekankan pada otak kiri (seperti misalnya menghafal dan menghitung).
Jika selama di sekolah, pengajaran lebih menekankan pada aktivitas otak kiri sedangkan keberhasilan dunia kerja sangat ditentukan oleh aktivitas otak kanan, maka sangat tidak heran jika kualitas SDM di Indonesia berada di bawah Vietnam, atau nomor 4 terbawah (nomor 102 dari 106 negara). Survei PERC di 12 negara dalam (Megawangi, 2007), menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan terbawah.
Lalu tunggu apalagi? Mari perbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Rubah sistem pengajaran yang lebih menekankan pada aktivitas otak kiri ke aktivitas otak kanan. Imbangi pengajaran meliputi hardskill (keterampilan memasak, montir, menggunakan komputer, menjahit, keahliaan khusus, dsb) dan softskill(kepemimpinan, keterampilan komunikasi, pendengar yang baik, mengelola stres dan waktu, bekerjasama dengan tim, dsb).
Jumat, 03 Juni 2011
emotional empathy pada mahasiswa Psikologi dan Teknik UI
Kamis, 02 Juni 2011
Sabtu, 07 Mei 2011
reschedule!
- Rajin ibadahnya. Sholatnya tepat waktu, sholat shunah dan dhuha gag ketinggalan, sholat tahajud juga, dzikir al-matsurat pagi sore, puasa senin-kamis, dan ibadah ibadah lain harus ditingkatkan!!
- Sedekah sedekah sedekah! untuk tabungan di syurga kelak >.<
- Jadi anak sholehah, patuh dan nurut sama mamah dan papah <3
- Jadi kakak yang bisa dijadikan contoh buat adik adik dan jadi adik yang bisa memberikaninspirasi buat kakak-kakak
- IPK naik! yaaahh seenggaknya IPK diatas 3,5 hehe XD *kumlot kumlot kumlot*
- Lancar KAUP, pelatihan 1-2, dan kuliah-kuliah lain. Bisa dapet kelompokan yang oke punya, yang KLOP azeeekk lah pokoknyaa ihihihi biar hasilnya to the MAX!
- ikutan PKM-M, PKM yang pengabdian masyarakat! juara RTO hingga OIM, semoga bisa ikutan di PIMNAS
- SKRIPSI, rancang skripsi sejak dini! jangan sampe prokras, lakukan yang terbaik untuk karya pertama \(>.<)/
- KESMA PROXY BEM PSIKOLOGI! terdepan dalam melayani~ TERDEPAN TERDEPAN TERDEPAN!!
- Magang di TPAM atau di Sekolah Mandiga
- Lebih banyak berkontribusi di Rumah Pelangi dan LCC (Leprosy Care Community)
- Join with Indonesia Menyala!
- les Conversation in English di LIA atau LBI *dimana aja boleh..
- Mau juga ahh les Renang, ahaha :DD aduuh aduuh malu gag bisa berenang!
- Belajar masak-memasak dan bikin kue, *sekalian nyicil belajar jadi istri dan ibu yang baik*hehe
- Mempersiapkan diri menjadi pribadi yang jauuuh lebih baik untuk bisa menjadi Pengajar Muda di http://indonesiamengajar.org/
- wanna be a Psychologist >> Farah Mafaza Fauzie M. Psi
Kamis, 20 Januari 2011
Wisata Kuliner Jakarta (sate afrika dan nasi uduk kebon kacang) :9





Kamis, 13 Januari 2011
farahh faraa




