Setiap anak pada dasarnya cerdas. Kecerdasan setiap anak tidak bisa disamakan. Menurut Howard Garner “Multiple Intelligences”, kecerdasan seseorang meliputi: kecerdasan matematika-logika, bahasa, musikal, visual-spasial, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Jika setiap anak adalah anak yang cerdas, lalu mengapa kita menemukan banyak sekali kasus anak yang tidak mau belajar, anak underachiever, anak yang tidak naik kelas, atau bahkan dikeluarkan dari sekolah?
Mungkin, pertanyaan diatas dapat dijawab melalui teori stimulus-respon. Anak akan berespon sesuai dengan stimulus yang diberikan orang dewasa, terutama orangtua dan guru. Pada masa kanak-kanak lingkungan memiliki peran yang sangat besar sehingga dapat mempengaruhi tingkah laku anak, dalam hal ini tingkah laku belajarnya. Jika kita perhatikan, dewasa ini banyak sekali anak yang dipaksa oleh orangtua untuk belajar sejak kecil. Sejak anak masuk TK, yang notabene-nya adalah taman kanak-kanak, mereka “dipaksa” untuk belajar membaca dan menghitung. Berapa banyak guru di sekolah yang masih menghukum anak didiknya ketika mereka tidak mengerjakan tugas.
Banyak juga kasus orangtua yang memberikan hukuman, baik fisik maupun perkataan, ketika mengetahui anaknya mendapat nilai buruk. Lihat juga berapa banyak orangtua dan guru yang masih menganggap kalau pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam adalah pelajaran yang lebih penting dibandingkan pelajaran yang lain, sehingga anak akan dianggap bodoh apabila mendapat nilai jelek di kedua mata pelajaran tersebut. Ditambah lagi, sistem pendidikan di Indonesia yang masih menggunakan sistem rangking di sekolah.
Beberapa kasus diatas tentunya bisa menimbulkan ketidaknyamanan belajar pada anak. Apa yang akan terjadi jika anak merasa tidak nyaman dalam belajar? Dampaknya, banyak! Anak menjadi malas belajar, motivasi turun, tidak percaya diri, underachiever, suka mencontek, sering bolos dari sekolah, melakukan tindakan kekerasan seperti bullying dan tawuran, tidak naik kelas, bahkan dikeluarkan dari sekolah.
Lalu, apa yang bisa dilakukan agar anak bisa nyaman ketika belajar? Kuncinya adalah menjadikan kegiatan belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan. Disini, peran pendidik, baik orangtua maupun guru sanga besar karena harus dapat menggunakan strategi se-kreatif mungkin agar suasana belajar menjadi lebih menyenangkan.

