Kamis, 28 Juli 2011

belajar yang menyenangkan :)

Setiap anak pada dasarnya cerdas. Kecerdasan setiap anak tidak bisa disamakan. Menurut Howard Garner “Multiple Intelligences”, kecerdasan seseorang meliputi: kecerdasan matematika-logika, bahasa, musikal, visual-spasial, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Jika setiap anak adalah anak yang cerdas, lalu mengapa kita menemukan banyak sekali kasus anak yang tidak mau belajar, anak underachiever, anak yang tidak naik kelas, atau bahkan dikeluarkan dari sekolah?

Mungkin, pertanyaan diatas dapat dijawab melalui teori stimulus-respon. Anak akan berespon sesuai dengan stimulus yang diberikan orang dewasa, terutama orangtua dan guru. Pada masa kanak-kanak lingkungan memiliki peran yang sangat besar sehingga dapat mempengaruhi tingkah laku anak, dalam hal ini tingkah laku belajarnya. Jika kita perhatikan, dewasa ini banyak sekali anak yang dipaksa oleh orangtua untuk belajar sejak kecil. Sejak anak masuk TK, yang notabene-nya adalah taman kanak-kanak, mereka “dipaksa” untuk belajar membaca dan menghitung. Berapa banyak guru di sekolah yang masih menghukum anak didiknya ketika mereka tidak mengerjakan tugas.

Banyak juga kasus orangtua yang memberikan hukuman, baik fisik maupun perkataan, ketika mengetahui anaknya mendapat nilai buruk. Lihat juga berapa banyak orangtua dan guru yang masih menganggap kalau pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam adalah pelajaran yang lebih penting dibandingkan pelajaran yang lain, sehingga anak akan dianggap bodoh apabila mendapat nilai jelek di kedua mata pelajaran tersebut. Ditambah lagi, sistem pendidikan di Indonesia yang masih menggunakan sistem rangking di sekolah.

Beberapa kasus diatas tentunya bisa menimbulkan ketidaknyamanan belajar pada anak. Apa yang akan terjadi jika anak merasa tidak nyaman dalam belajar? Dampaknya, banyak! Anak menjadi malas belajar, motivasi turun, tidak percaya diri, underachiever, suka mencontek, sering bolos dari sekolah, melakukan tindakan kekerasan seperti bullying dan tawuran, tidak naik kelas, bahkan dikeluarkan dari sekolah.

Lalu, apa yang bisa dilakukan agar anak bisa nyaman ketika belajar? Kuncinya adalah menjadikan kegiatan belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan. Disini, peran pendidik, baik orangtua maupun guru sanga besar karena harus dapat menggunakan strategi se-kreatif mungkin agar suasana belajar menjadi lebih menyenangkan.

Rabu, 27 Juli 2011

uang seribu, saya, dan bapak tua


Hari itu, saya memilih menggunakan kereta untuk berangkat ke UI karena memperkirakan waktu yang lebih cepat sampai di tujuan. Di tulisan saya sebelumnya, saya sempat megatakan bahwa saya senang menggunakan kereta. Bukan hanya karena lebih cepat dan terkadang lebih murah, melainkan karena banyak pengalaman yang saya dapat disana. Begitu pula di hari itu. Seperti biasa, saya harus menaiki angkot berwarna merah yang melewati stasiun pasar minggu baru. Di angkot berwarna merah, yang hampir sepi dari penumpang, hanya ada saya, satu orang penumpang, bapak tua, dan tentu saja supir. Kebetulan, bapak tua itu duduk persis di samping sebelah kanan saya.

Tidak lama setelah ia duduk, ia terus menurus menunduk. Bapak tua itu sibuk melihat bagian bawah bangku seakan mencari-cari sesuatu. Bahkan ia berkali-kali mengangkat ban mobil yang ada di bagian bawah bangku. Melihat tingkah bapak tua itu, saya secara spontan bertanya.

“kenapa pak?”

“Saya lagi nyari uang saya” balas bapak tua.

Sebelum saya bertanya kepadanya, saya juga sudah mengira kalau bapak tua itu sedang mencari uang-nya yang jatoh. Saya memberanikan diri untuk bertanya karena saat saya memperhatikannya saya meilhat ada uang logam 1000 di dekat ban mobil bagian bawah bangku. Meskipun saya melihat uang tersebut, saya agak ragu bapak tua sedang mencari uang sebesar 1000 rupiah.

Lantas saya tanyakan kembali “Uangnya berapa pak?”.

“Seribu..” jawab si bapak tua.

Ya Tuhan teryata benar, uang yang sedari tadi saya lihat itu lah yang ia cari. Bahkan saya sempat ragu kalau bapak tua itu berusaha dengan keras hanya untuk mencari uang dengan nominal 1000 rupiah.

Buru-buru saya jawab “ini bukan pak!” sambil menunjuk ke uang tersebut.

“Oh iya, terimakasih ya” kata bapak tua sambil tersenyum dengan wajah bersinar.

Saya tersentil dengan kejadian ini. Selama ini, mungkin saya termasuk orang yang sering meremehkan uang seribu rupiah. Bagi saya uang seribu rupiah tidak ada arti apa-apa karena tidak banyak yang bisa dilakukan dengan uang tersebut. Saya akan mengabaikan jika saya kehilangan uang seribu rupiah. Bahkan saking tidak peduli, saya mungkin tidak akan tahu jika uang seribu yang saya miliki hilang.

Sejak saat itu, melalui uang logam seribu rupiah dan bapak tua, saya jadi belajar bahwa ada banyak orang di luar sana yang sangat amat menghargai besaran uang seribu rupiah. Uang seribu rupiah ah hidup mereka digantungkan. Dengan uang seribu rupiah, mereka bisa membayar banyak hal. Mereka bisa mengumpulkan uang seribu rupiah untuk membeli makan keluarga. Dengan uang seribu rupiah yang mereka tabung hari demi hari, mungkin lama-lama akan terkumpul sehingga bisa membiayai pendidikan mereka atau pendidikan anak-anak mereka. Uang seribu rupiah sangat berarti demi kelangsungan hidup sebagian orang.

Terimakasih bapak tua. Semoga engkau selalu diberikan kesehatan dan rejeki yang halal untuk membesarkan anak-anak mu yang kelak akan mengharumkan derajat keluargamu.

Minggu, 10 Juli 2011

13 indikator keberhasilan dalam dunia kerja

Prof. George Boggs meneliti tentang adanya 13 indikator keberhasilan seseorang dalam dunia kerja, diantaranya adalah:

  1. Jujur
  2. Tepat waktu
  3. Bisa menyesuaikan diri dengan orang lain
  4. Bisa bekerjasama dengan atasan
  5. Menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik
  6. Motivasi tinggi untuk memperbaiki diri
  7. Percaya diri
  8. Mampu berkomunikasi dan menjadi pendengar yang baik
  9. Mampu bekerja mandiri dengan supervisi minimum
  10. Tahan terhadap stres
  11. Mempunyai kecerdasan sesuai kebutuhan
  12. Bisa membaca dengan pemahaman yang memadai
  13. Mengerti dasar-dasar menghitung

Ternyata 10 dari 13 indikator (77%) merupakan dominan otak kanan, sedangkan sisanya (22%) menyangkut otak kiri (Megawangi, 2007). Aktivitas otak kanan seperti misalnya seni, keterampilan, kreativitas, dan juga kualitas hubungan dengan diri sendiri serta orang lain merupakan indikator terbanyak yang dapat menentukan keberhasilan seseorang di dalam dunia kerja (seperti pada data diatas).

Hmm.. saya jadi berpikir ulang, berapa lama waktu yang dihabiskan sekolah-sekolah (dalam hal ini pendidik) di Indonesia untuk mengajarkan siswanya dalam mengembangkan otak kanan? Tentu jumlahnya lebih sedikit (bahkan jauh lebih sedikit) jika dibandingkan dengan pengajaran dengan hanya menggunakan kemampuan dan pengembangan otak kiri. Sistem pengajaran di Indonesia saat ini masih menekankan pada otak kiri (seperti misalnya menghafal dan menghitung).

Jika selama di sekolah, pengajaran lebih menekankan pada aktivitas otak kiri sedangkan keberhasilan dunia kerja sangat ditentukan oleh aktivitas otak kanan, maka sangat tidak heran jika kualitas SDM di Indonesia berada di bawah Vietnam, atau nomor 4 terbawah (nomor 102 dari 106 negara). Survei PERC di 12 negara dalam (Megawangi, 2007), menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan terbawah.

Lalu tunggu apalagi? Mari perbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Rubah sistem pengajaran yang lebih menekankan pada aktivitas otak kiri ke aktivitas otak kanan. Imbangi pengajaran meliputi hardskill (keterampilan memasak, montir, menggunakan komputer, menjahit, keahliaan khusus, dsb) dan softskill(kepemimpinan, keterampilan komunikasi, pendengar yang baik, mengelola stres dan waktu, bekerjasama dengan tim, dsb).

 

Blog Template by YummyLolly.com