Jumat, 03 Juni 2011

emotional empathy pada mahasiswa Psikologi dan Teknik UI

Di sebuah kelas mata kuliah wajib peminatan klinis, ada salah seorang mahasiswa yang bertindak 'kurang sopan'. Dosen kemudian memanggil mahasiswa tersebut ke depan kelas, dan beginilah percakapan diantara mereka.

Dosen: "Tadi kamu mau ngapain ngintip-ngintip di depan pintu?"
Mahasiswa: "Saya mau ngasih ini ke teman saya, mbak."
Dosen: "Kamu bisa loh ketok pintu dulu, minta izin sama saya, mbak saya mau ketemu sama teman saya, begitu!"
Mahasiswa: "Maaf mbak."
Dosen: "Kamu kan mahasiswa Psikologi, bukan mahasiswa Teknik. Jadi harusnya punya empati yang baik. Saya kan lagi mengajar di depan kelas. Lain kali jangan diulangi lagi ya."

Dari percakapan antara dosen dan mahasiswa diatas, ditambah dengan pengalaman berbicara dengan mahasiswa dari berbagai rumpun studi, saya mendapat kesimpulan bahwa mahasiswa yang belajar di Psikologi seharusnya (bisa dibilang dituntut) untuk memiliki empati yang lebih dibandingkan dengan mahasiswa Teknik.

Dari fenomena diatas, saya dan beberapa teman di Psikologi tertarik untuk membuat penelitian tentang emotional empathy pada mahasiswa Psikologi dan Teknik di Universitas Indonesia.

Sebelum melangkah pada penelitian yang kami lakukan, akan diuraikan pengertian dari emotional empathy. Menurut Stotland; Mehrabian & Epstein; Hoffman; dalam Myyry dan Helkama (2001), emotional empathy lebih menekankan pada aspek emosi. Mereka mendefinisikan empati sebagai respon emosi terhadap pengalaman emosi yang dialami orang lain. Menurut Bayer (2004), empati lebih dari sekedar kesadaran terhadap emosi orang lain, melainkan merasakan emosi-emosi yang terdapat di dalamnya, serta mengekspresikan perasaan dengan cara yang berperasaan.

Penelitian ini dilakukan kepada mahasiswa fakultas Psikologi dan Teknik Universitas Indonesia. Kami memberikan kuesioner tentang emotional empathy yang merupakan adaptasi dari Mehrabian & Epstein’s Questionnaire Measure of Emotional Empathy, kepada 19 mahasiswa Psikologi dan 19 mahasiswa Teknik.

Dari penelitian yang kami lakukan, didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan nilai rata-rata skor emotional empathy antara mahasiswa Psikologi dan Teknik. Rata-rata skor emotional empathy mahasiswa Psikologi adalah 86,79, sedangkan mahasiswa Teknik sebesar 84,42. Berdasarkan nilai rata-rata skor, emotional empathy mahasiswa Psikologi lebih tinggi dibandingkan mahasiswa Teknik.

Untuk meilihat signifikansinya, maka dilakukan pengujian nila t-test. Berdasarkan nilai t, yakni 0,210, didapatkan bahwa hasilnya tidak signifikan karena (p=0.210>0.05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan rata-rata skor antara mahasiswa Psikologi dan mahasiswa Teknik tidak berbeda secara signifikan.

Berdasarkan hasil penelitian yang kami lakukan, dengan menggunakan subjek sebanyak 38 mahasiswa Psikologi dan Teknik, tidak terdapat perbedaan yang signifikan emotional empathy antara mahasiswa Psikologi dengan mahasiswa Teknik Universitas Indonesia.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih representitaf terhadap populasi (mahasiswa Psikologi dan Teknik), sebaiknya penelitian kedepannya menggunakan lebih banyak sampel.

Kamis, 02 Juni 2011

KESMA PROXY

kami para pejuang!
kami lah..

KESMA PROXY
"terdepan dalam melayani"

cheli, wahe, ichwan, risya, dika, dan uci

SALAM PERJUANGAN!

 

Blog Template by YummyLolly.com